Sahabat Sejati
(Hanipa Kurniawati)
Orang bilang masa-masa
SMA adalah masa yang paling meyenangkan. Tapi menurut Sally kata-kata itu
kurang tepat. Ya, Sally adalah seorang siswa SMA, tepatnya kelas 1 SMA. Awalnya
Sally juga mengira jika masa SMA yang sedang dijalaninya ini sangatlah
menyenangkan. Bisa berkumpul bersama teman, pergi bersenang-senang bersama
teman kemana saja yang kita sukai, dan mungkin juga bisa mendapatkan pasangan
kekasih. Tapi ternyata kenyataan kadang tak sejalan dengan yang diharapkan.
Masa-masa SMA yang dijalani Sally tidak seperti yang dibayangkannya.
Bermula saat Ia akan
meneruskan sekolahnya dari tingkat Sekolah Menegah Pertama ke tingkat yang
lebih tinggi yaitu Sekolah Menegah Atas. Saat itu Sally harus berpisah dengan
semua teman dekatnya semasa SMP karena mereka masuk di sekolah yang berbeda
dengannya. Setelah selesai mengikuti Ujian Nasional dan sedang menunggu
hasilnya, Sally dan teman-temannya pergi bersama untuk sekedar menghabiskan
waktu dengan berbincang di salah satu mall.
“Sally, kamu mau
melanjutkan ke SMA mana?” tanya Bunga, salah satu teman sally.
“Aku sih rencananya mau
masuk SMA 1 saja.”
“Wah.. keren sekali
kamu Sally ingin masuk ke sekolah yang elit itu.” balas Yuni.
“Iya.. tapi sebenarnya
aku masih ragu juga karena aku tidak terlalu yakin bisa berhasil masuk ke SMA
itu. Kalau kalian ingin masuk SMA mana saja?” tanya Sally.
“Hmm.. kalau aku
sepertinya ingin masuk SMA 3 saja deh.” jawab Susanti.
“Kalau aku, aku masih
bingung ingin masuk ke SMA mana.” balas Yuni.
“Iya, aku juga sama
seperti Yuni masih bingung ingin melanjutkan kemana.” jawab Bunga.
“Yasudah kalau begitu
kalian berdua ikut saja bersamaku untuk masuk ke SMA 1” balas Sally.
“Sepertinya itu ide yang bagus. Baiklah jika aku mendapatkan nilai yang bagus aku akan mengikuti saranmu untuk masuk ke SMA 1” jawab Yuni.
“Sepertinya itu ide yang bagus. Baiklah jika aku mendapatkan nilai yang bagus aku akan mengikuti saranmu untuk masuk ke SMA 1” jawab Yuni.
“Iya, aku juga akan
mengikuti saran darimu. Tapi aku kan tidak sepintar kamu Sally, aku jadi tidak
yakin bisa masuk ke SMA itu.” Kata Bunga sambil memasang wajah yang murung.
“Jangan pesimis begitu
dong. Aku yakin kok kamu, Yuni, dan juga
aku bisa berhasil masuk ke SMA itu.” Jawab Sally sambil tersenyum memberikan
semangat.
**
Tidak terasa waktu
untuk pendaftaran murid baru pun tiba. Dengan berbekal hasil nilai Ujian
Nasional yang cukup memuaskan, Sally akhirnya benar-benar mendaftarkan diri di
SMA 1. Ternyata kalau rezeki memang tidak akan kemana. Sally akhirnya berhasil
masuk di SMA impiannya itu. Tapi saat mengetahui bahwa dua orang temannya yang
sudah berjanji akan masuk ke SMA yang sama dengannya tidak cukup beruntung seperti dirinya karena
mendapatkan nilai yang kurang memuaskan dan akhirnya tidak bisa bersekolah di
SMA pilihan yang sama dengannya, Sally merasa sangat sedih sampai Ia menagis
semalaman karena hal itu. Ia bahkan sempat berniat untuk pindah ke sekolah yang
sama dengan teman-temannya saja daripada harus berpisah. Tapi berkat bantuan
dari teman-temannya yang menguatkannya dan berkata bahwa ini bukan akhir dari
pertemanan mereka, Sally akhirnya bangkit kembali dari keterpurukannya dan
semangat lagi menjalani kehidupan barunya di Sekolah Menegah Atas. Sally,
Bunga, Susanti, dan Yuni tidak ada yang bersekolah di satu sekolah yang sama.
mereka semua berpisah. Tapi itu bukan menjadi alasan bagi pertemanan mereka
yang ikut berpisah juga. Mereka masih akan terus berteman sampai kapanpun.
Saat akan masuk di
sekolah yang baru, biasanya akan ada kebiasan tersendiri di setiap sekolah di
Indonesia yang dinamakan Masa Orientasi Siswa atau MOS. Biasanya ketika MOS
tiba siswa-siswa baru akan dikerjai oleh kakak kelasnya. Tapi beruntung di
sekolah yang Sally pilih tidak terlalu mementingkan acara MOS tersebut sehingga
acara MOS hanya diadakan biasa saja tanpa berlebihan.
Awal masuk di sekolah
barunya yang Sally pikirkan hanya bagaimana cara Ia cepat beradaptasi dengan
lingkungan yang baru dan juga bagaimana cara Ia agar bisa mendapatkan teman
yang baru tetapi baik seperti teman-temannya dulu ketika di SMP. Memang sangat
sulit bagi Sally untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru itu karena Ia
memang orang yang agak pendiam sehingga sulit baginya untu memulai berinteraksi
dengan orang lain apalagi yang batu Ia kenal. Karena itulah dia merasa masa SMA
begitu menyedihkan dan sama sekali tidak menyenangkan seperti kata orang.
“Hai, kamu namanya
siapa?” sapa seorang teman sekelas baru Sally.
“Aku Sally.” jawab
Sally seadanya.
“Hai Sally. Aku Jessica
Mulai sekarang kita berteman ya. Kamu mau kan jadi teman aku?” kata seorang
teman sekelas Sally yang bernama Jessica. Mendengar hal itu tentu saja Sally
sangat senang dan langsung menerima tawaran itu.
“Ya, tentu saja aku
mau. Mulai sekarang kita berteman ya Jessica.” Sally menjawab dengan semangat.
Sally akhirnya mendapatkan
teman baru di sekolah barunya itu. Sally sangat senang akan hal itu. Semakin
hari Ia dan Jessica semakin dekat bahkan terlihat seperti bersaudara. Jessica sering main ke rumah
Sally, begitu juga sebaliknya.
“Sal, hari ini kita
main yuk.” ajak Jessica dengan penuh semangat.
“Boleh. Kita mau main
kemana Jes?”
“Bagaimana kalau kita
hari ini main ke rumahku saja? Aku ada film baru loh nanti kita tonton
sama-sama”
“Wah kedengarannya seru
baiklah aku setuju.” jawab Sally dengan senyuman.
Semenjak Sally berteman
dekat dengan Jessica, Sally justru merasa sedikit tidak nyaman. Sebenarnya Ia
sangat senang karena Ia dapat mempunyai teman dekat seperti saat Ia di SMP dulu
dan juga Ia jadi tidak merasa kesepian.
Tapi entah kenapa Sally merasa sedikit ada yang tidak beres dengan temannya
yang satu ini.
“Eh Sally, kamu kenal
Doni anak kelas sebelah nggak?” Tanya Jessica suatu ketika saat Ia dan Sally
sedang istirahat dan makan di kantin.
“Kalo aku sih kenal dia
tapi dia pasti nggak kenal aku. Soalnya dia kan memang terkenal sekali di
sekolah ini. Sepertinya, semua orang juga pasti kenal dia.” jawab Sally panjang
lebar.
“Iya, dia memang sangat
terkenal di sini. Mungkin karena dia memiliki wajah yang tampan, pintar, dan
juga dia adalah anak orang kaya. Bapaknya dia adalah seorang pengusaha terkenal
yang sukses.” Jessica menjelaskan panjang lebar.
“Oh, jadi itu sebabnya. Pantas saja Ia terkenal
sekali.”
“Iya, yang aku dengar
juga dia belum punya pacar loh.”
“Lho? Masa sih dia
belum punya pacar? Bukannya kalau orang seperti dia itu banyak yang suka ya?
Pasti mudah sekali bagi dia untuk memilih perempuan mana yang ingin dia
pacari.” Sally berkata dengan kebingungan.
“Iya sih, tapi aku
penah dengar dari orang lain kalau dia itu baru satu kali pacaran dan pacarnya
itu meninggal akibat kecelakaan pesawat saat akan pergi ke luar negeri. Dan
semenjak saat itu Ia belum pernah pacaran lagi. Mungkin karena dia masih tidak
terima jika pacarnya itu meninggal secepat itu.”
“Kamu serius? Kasihan
sekali dia. Jika aku jadi dia pasti aku juga akan merasakan hal yang sama.”
“Nah, makanya kamu coba
dong untuk memulihkan perasaannya itu. Yang aku tau sih pacarnya yang meninggal
itu mirip loh sama kamu.” kata Jessica sambil tersenyum menggoda.
“Ih, apa sih kamu ini
aneh aneh aja dia nggak mungkin lah mau sama aku.”
“Siapa bilang? Aku
yakin kok kalau kamu pasti bisa jadi pacarnya Doni.”
“Tapi kalau aku sih
nggak.” jawab Sally dengan jutek dan hanya dibalas dengan tertawa oleh Jessica.
**
Setelah pembicaraan
tentang Doni, Sally menjadi merasa semakin penasaran dengan Doni. Jika secara
tak sengaja berpapasan dengan Doni dijalan Ia selalu berusaha melirik walau
sekilas. Begitu juga ketika Ia melewati kelas Doni, Ia pasti akan mencoba untuk
melihat wajah Doni yang rupawan. Sally sendiri bingung kenapa Ia bisa berbuat
hal yang seperti itu. Padahal sebelumnya Sally tak pernah mau peduli tentang
segala hal yang berhubungan dengan lawan jenisnya itu. Yang Ia pedulikan
hanyalah bagaimana Ia bisa terus mendapatkan nilai yang bagus di sekolah.
Semakin hari Sally
merasa jika nilai-nilanya di sekolah semakin menurun. Ia juga jadi sering
dimarahi orang tuanya karena terlalu banyak bermain bersama Jessica daripada
belajar. Padahal dulu ketika di SMP Sally tak pernah terganggu jam belajarnya
hanya karena bermain bersama teman-temannya.
“Sally, lebih baik kamu
jangan terlalu sering bermain bersama teman barumu itu. Ibu lihat akhir-akhir
ini kamu jadi berubah karena teman barumu itu. Kamu jadi lupa belajar, nilai
kamu menurun, dan juga kamu jadi lupa dengan teman SMP kamu yang masih sering
mengajak kamu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama.” Ibu Sally berkata
kepada Sally tentang apa yang Ia rasakan.
“Tapi Bu aku rasa
Jessica itu teman yang baik sama seperti teman-temanku yang dulu. Mungkin nilai-nilaiku
yang menurun itu hanya karena aku kurang belajar dengan giat. Aku janji akan belajar
lebih giat lagi, tapi aku tidak bisa jika menuruti kata Ibu untuk tidak bermain
dengan Jessica lagi karena hanya dia satu-satunya teman yang paling dekat
denganku di sekolah, Bu.” Sally menjawab dengan raut wajah yang sedih.
“Baiklah kalau begitu.
Kamu boleh berteman dengan Jessica asal kamu tidak lupa untuk terus rajin
belajar. Dan kamu juga tidak boleh lupa dengan teman-temanmu semasa SMP dulu.
Kamu harus menjaga tali silaturahmi yang terjalin jangan sampai putus. Ingat
itu ya.”
“Iya, Bu.” ujar Sally.
**
Sebenarnya terkadang
Sally juga merasa sedikit kurang nyaman dengan tingkah laku Jessica yang
menurutnya aneh. Pernah suatu ketika Ia diajaknya untuk ikut pergi bersamanya ke
tempat hiburan malam. Tapi untungnya Ia bisa mencari alasan untuk tidak ikut
pergi ke sana. Jessica juga semakin berani untuk mengatur hidupmya. Jika Bunga,
Susanti, dan Yuni ingin mengajak Sally untuk bertemu sekedar hanya ingin
melepas kangen, Jessica akan dengan seenaknya mengancam Sally untuk tidak ikut
ke sana. Alasannya bermacam-macam. Bahkan Ia mengancam tidak akan mau menjadi
teman Sally lagi. Medengar ancaman itu tentu saja membuat nyali Sally ciut lalu
akan menuruti kata-kata temannya itu. Sally sudah terlalu percaya kepada Jessica
Ia tidak menaruh curiga apapun kepada teman barunya itu walaupun terkadang
Sally sendiri juga bingung kenapa Jessica bisa sampai melakukan hal seperti
itu.
Hari terus berganti
tanpa bisa dihindari. Semakin hari pula ternyata perasaan Sally terhadap Doni
tumbuh menjadi rasa cinta. Bagi Sally inilah pertama kalinya Ia merasakan jatuh
cinta terhadap lawan jenisnya. Bisa dibilang Doni adalah cinta pertama Sally.
Sally menceritakan perasaannya itu kepada Jessica dengan maksud agar Ia bisa
memberi saran kepada Sally yang masih belum mengerti tentang cinta.
“Jessica, sepertinya
aku suka deh sama Doni.” ujar Sally malu-malu.
“Cie, aku rasa kamu
sama Doni cocok deh. Soalnya Doni yang tampan bersanding dengan kamu yang
cantik. Pasti bakalan cocok deh.” balas Jessica sambil tersenyum menggoda.
“Tapi aku gak yakin
bisa bersama dengan dia. Dia terlalu sempurna buat aku yang biasa saja.” balas
Sally dengan wajah yang murung.
“Jangan begitu. Aku yakin
kamu bisa kok bersama dengan Doni.” jawab Jessica memberi semangat.
“Iya, makasih ya Jes.”
“Nanti aku coba deh
kenalin kamu sama dia.”
“Serius? tapi aku
malu.” Ia berwajah ketakutan seperti maling yang akan dibawa ke kantor polisi.
“Kalau dia nggak suka sama aku karena aku jelek gimana?”
Sambil menahan tawa
Jessica menjawab. “Tenang saja Sally. Nggak usah setakut itu. Jangan seperti
maling yang ketahuan mencuri deh sampai ketakutan seperti itu. Aku yakin kok
Doni pasti suka sama kamu. Kamu itu kan udah cantik, pintar lagi.”
“Ah kamu bisa saja Jes.
Terima kasih ya sudah mau menghibur aku.”
“Tenang saja Sally, aku
akan membantu kamu sesuai dengan kemampuanku.”
Jessica akhirnya
benar-benar mengenalkan Sally dengan Doni. Awalnya mereka masih tidak terlalu dekat,
saling malu-malu. Tapi dengan berjalannya waktu hubungan Sally dan Doni semakin
hari semakin dekat. Yang awaalnya hanya sebagai teman biasa, kini hubungan
mereka sudah menapaki jenjang yang lebih serius yaitu menjadi sepasang kekasih.
“Sally, hari ini kita
pulang bareng ya.” ajak Doni dengan wajah sumringah.
“Tapi rencananya hari
ini aku mau ke toko buku dulu baru pulang.”
Dengan wajah yang
pura-pura sedih Doni menjawab. “Yasudah kalo begitu aku antar kamu ke toko buku
dulu baru setelah itu aku antar kamu pulang.”
Dengan tersenyum
malu-malu Sally megangguk dan menjawab. “Ya.”
sebagai tanda persetujuannya.
Tiba-tiba Jessica
datang dan mengagetkan mereka berdua, “Ayo, kalian mau pergi kemana? Aku ikut
dong!” Jessica tertawa. “Tenang saja aku cuma bercanda kok. Mana mungkin aku mengganggu
kalian yang mau kencan.” lanjutnya sambil tertawa.
Sebenarnya Jessica dan
Doni adalah teman satu sekolah dulu. Dan telah lama pula Jessica menyukai Doni.
Tapi tidak ada yang tau perasaannya selain dirinya dan Tuhan yang mengetahuinya.
Ia lebih memilih untuk memendam perasaannya kepada Doni. Tapi saat Ia mencoba
melupakan perasaannya itu, Sally tiba-tiba menceritakan perasaan sukanya ke
Doni kepada dirinya.
Ia tak memungkiri jika
tidak semudah itu melupakan perasaan sukanya kepada Doni. Sebenarnya Ia masih
berharap jika Ia bisa bersama dengan Doni. Tapi setelah mendengar cerita dari
Sally yang mengatakan jika Doni adalah cinta pertamanya, Jessica berniat
sungguh-sungguh untuk melupakan Doni.
Tapi ternyata tidak
semudah yang Ia pikirkan. Perasaannya tidak bisa berhenti tumbuh. Bahkan Ia
merasa sangat cemburu melihat kedekatan Sally dengan Doni. Padahal Ia lebih
dahulu mengenal Doni tapi Ia tidak bisa seperti Sally yang langsung bisa akrab
dan menjadi pacar Doni.
Jika Sally pergi
bersama dengan Doni, Ia pasti akan langsung cerita kepada Jessica. Hal itu
justru membuat Jessica semakin terbakar api cemburu. Tapi Jesssica piawai
menyembunyikan perasaan yang dirasakannya itu sehingga Sally tidak pernah tahu.
Bahkan soal Jessica yang menyukai Doni pun Sally tidak pernah tahu karena
Jessica benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya.
Niat Jessica yang
awalnya ingin melupakan perasaannya dan mencoba mengikhlaskan Doni dengan Sally
perlahan mulai goyah. Jessica akhirnya memutuskan untuk merebut kembali Doni
dari Sally, walau itu berarti pertemanan Ia dan Sally mungkin akan hancur. Tapi
Jessica tidak peduli akan hal itu. Yang Ia pedulikan adalah cara agar Doni bisa
menjauh dari Sally dan akhirnya menjadi miliknya.
Setelah meyakinkan
dirinya sendiri, akhirnya Jessica pergi menemui Doni. Dan membicarakan perihal
tentang Sally.
“Doni, aku boleh
ngomong sebentar sama kamu?” ujar Jessica dengan wajah yang tenang.
“Iya, boleh. Silahkan
ngomong aja.”
“Aku hanya mau bilang
ke kamu yang sebenarnya tentang Sally.”
“Sally? Memangnya apa
yang ingin kamu bicarakan tentang dia?” jawab Doni dengan wajah yang
kebingungan.
“Aku Cuma ingin memberitahu
kamu kalau Sally diam-diam ternyata sudah berselingkuh di belakang kamu.“
“Apa? Sally selingkuh?
Aku nggak percaya sama kamu. Sally itu orang yang baik kok. Dia tidak mungkin
melakukan hal itu.”
“Tapi aku kemarin
melihatnya sendiri. Dan dia juga bilang kalau aku tidak boleh memberitahu kamu
tentang hal ini. Tapi karena aku merasa kasihan terhadap kamu yang dibohongi,
jadi aku memutuskan untuk memberitahu kamu.” ujar Jessica dengan wajah yang
dibuat seolah-olah sangat sedih.
**
Setelah Jessica
berbicara kepada Doni tentang hal yang telah dikarang olehnya, hubungan Sally
dan Doni menjadi hancur. Mereka akhirnya putus dengan menyisakan kebingungan
yang melanda Sally. Rencana Jessica untuk menghancurkan hubungan Sally dan Doni
berhasil.
Jessica diam-diam terus
bertemu dengan Doni dan mengarang cerita tentang Sally yang bukan-bukan.
Anehnya, Doni dengan mudahnya percaya semua cerita karangan Jessica.
Sally sendiri belum
mengetahui jika Doni memutuskan hubungan mereka karena cerita karangan Jessica,
dan Jessica pun masih tetap berakting menjadi teman yang baik bagi Sally yang
saat itu sedang patah hati.
Dikala Sally sedang
sedih, akan ada Jessica yang menjadi tempatnya untuk bercerita. Padahal
penyebab dari semua hal yang terjadi ini adalah karena ulah Jessica yang
bermuka dua.
“Jes, aku bingung deh
kenapa tiba-tiba Doni memutuskan hubungan kita begitu saja.” Sally berkata
sambil menahan tangis.
“Udah lah Sal, cowok
yang seperti itu nggak perlu kamu tangisi. Masih ada kok cowok yang lebih baik
lagi dari dia.”
“Iya Jes, mungkin kamu
memang benar. Aku nggak akan menangis hanya karena putus dari Doni.” jawab
Sally.
Hubungan Jessica dan
Doni kian hari kian dekat. Sally pun tidak menaruh curiga sama sekali terhadap
Jessica. Tapi sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti baunya akan
tercium juga. Kebohongan yang disembunyikan oleh Jessica akhirnya diketahui
oleh Sally.
Saat sedang pergi ke
toko buku, tidak sengaja sally bertemu Jessica yang sedang jalan berdua dengan Doni. “Jessica, Doni, ngapain
kalian jalan berdua kesini?” tanya Sally keheranan.
Karena sudah kepalang
basah, Jessica akhirnya memutuskan untuk membongkar kebohongan yang Ia
sembunyikan selama ini. “Hai, Sally. Aku sekarang sudah jadian dengan Doni.
Karena Doni sekarang sudah tahu kebohongan kamu. Kamu yang ternyata
berselingkuh di belakang dia, dan semua hal buruk yang telah kamu perbuat Doni
sudah mengetahuinya.”
“Siapa yang selingkuh?
Aku tidak pernah selingkuh. Ini semua bohong. Jessica aku nggak nyangka kenapa
kamu tega melakukan semua ini kepadaku?” jawab Sally sambil berusaha menahan
tangis.
“Sudahlah Sally kamu
jangan pura-pura tidak tahu begitu.”
“Aku benar-benar nggak
nyangka kamu tega memfitnah aku seperti itu Jes.” jawab Sally, lalu pergi
meninggalkan Jessica dan Doni.
**
Sally terus berjalan
tak tentu arah. Yang sedang Ia fikirkan hanyalah pergi menjauh dari Jessica. Saat
Ia sedang berjalan tak sengaja Ia menabrak seseorang yang ternyata adalah
Bunga, teman SMPnya dulu.
“Sally? Sally kamu
kenapa? Kok kamu menangis?” Bunga berkata dengan nada yang khawatir dan cemas melihat
kondisi Sally saat ini. “Apa kamu sedang ada masalah?”
“Bunga? Bunga itu kamu?
Bunga aku sedih, aku sangat sedih Bunga.” ujar Sally yang langsung memeluk
Bunga dengan erat dan menangis.
“Sedih kenapa Sally?
Kamu bisa cerita sama aku, tapi tenangkan dirimu dulu.” ujar Bunga yang masih
berusaha menenangkan Sally.
“Temanku di SMA,
Jessica dia dia telah mengkhianati aku. Dia telah memfitnah aku. Padahal aku
sangat percaya dengan dia. Tapi dia tega sekali kepada aku.” Sally menjawab
sambil masih menangis kencang.
“Ssst… sudah sudah.
Kamu tidak usah menangis lagi. Tenang saja ada aku disini yang akan selalu
membantu kamu jangan lupa juga jika ada Susanti dan Yuni yang pasti akan
membantu kamu. Ada kita semua di sini yang masih dan akan tetap menjadi teman
kamu. Jadi kamu nggak usah sedih lagi.” Kata Bunga dengan senyuman hangatnya
yang mampu menenangkan hati setiap orang yang melihatnya tak terkecuali Sally.
Mendengar perkataan
Bunga membuat hati Sally tersentuh. Ia tidak pernah mengira dapat mempunyai
teman yang sangat baik dan tulus seperti Bunga, Susanti, dan Yuni. Betapa
malunya Ia pernah hampir melupakan teman-temannya yang baik hanya demi Jessica,
teman yang ternyata bermuka dua.
“Makasih ya Bunga, kamu
dan yang lainnya memang temanku yang paling baik. Maafkan aku, maafkan aku yang mungkin pernah hampir
melupakan kalian. Aku benar-benar menyesal. Aku menyesal karena aku yang
terlalu percaya kepada teman baruku yang ternyata jahat kepadaku, dan melupakan
teman-temanku yang sangat baik kepadaku.” Sally berkata dengan penuh
penyesalan.
“Iya. Iya Sally aku dan yang lainnya tidak pernah
sekalipun marah kepada kamu kok.”
“Tapi aku benar-benar
keterlaluan. Aku benar-benar minta maaf Bunga.” kata Sally dengan nada penuh
penyesalan.
**
Kehidupan dimasa SMA
yang dijalani Sally bisa dibilang memang tidak begitu menyenangkan. Tapi hal
yang tidak menyenangkan tersebut bisa menjadi sebuah pelajaran hidup yang
sangat berharga yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidup Sally.
Dan setelah insiden
tersebut, hubungan pertemansn yang terjalin antara Sally, Bunga, Susanti, dan
Yuni kembali membaik. Mereka menganggap tidak pernah terjadi sesuatu dengan
hubungan pertemanan mereka sebelumnya. Sally pun kini kembali seperti Sally
yang dulu. Tentang kesalahan yang pernah Ia perbuat, Ia benar-benar merasa
bersalah dan menyesal. Kini Ia berjanji tidak akan pernah melupakan
sahabat-sahabat sejatinya itu. Sahabat yang selalu ada di sampingya saat susah
maupun senang, yang tidak pernah meminta imbalan apapun akan ketulusannya dalam
berteman. Sally benar-benar bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan Ia
sahabat-sahabat yang tak ternilai harganya.
Selesai


Tidak ada komentar: