Tiga Sekawan
Oleh: Hanipa Kurniawati
Aku mempunyai 3 ekor kucing. Kucing-kucingku bernama Jaky, Kitty, dan Garong. Ketiganya selalu bersama. Aku bertemu dengan ketiga kucing itu di rumah. Bermula dari seekor kucing dewasa yang selalu berdiam di rumahku dan selalu ku beri makan. Suatu ketika kucing itu melahirkan di pekarangan rumahku. Ternyata beberapa hari kemudian kucing itu mati, dan meninggalkan 3 ekor anak.
“Pak, tolong bantu aku kuburkan kucing itu:, kataku sedih
“iya, ayo kita segera kafani dan kubur dia”, balas Bapakku
Setelah selesai menguburkannya, aku dan bapakku langsung
menemui 3 ekor anaknya yang kini telah yatim piatu. Aku memutuskan untuk
merawat kucing-kucing itu sampai mereka dewasa. Atau setidaknya, sampai mereka bisa
mencari makan sendiri.
Sekitar tiga bulan telah berlalu aku selalu memberi mereka
makan, memandikan mereka, dan merawat mereka dengan penuh rasa senang.
“Bu, ikan untuk makan Jaky, Kitty, dan Garong udah abis. Tolong
belikan lagi ya…”kataku pada Ibu
“iya, itu masalah gampang “, jawab ibu
Ibuku lalu membelikan ikan,
lalu langsung mengukusnya.
“makasih ya bu…”, kataku dengan rasa senang.
“iya..”, jawab Ibu
Aku langsung memberi mereka makan. Kebiasaan seperti ini
terus kulakukan setiap hari. Aku juga sering sekali menakuti kakakku yang gak
suka sama kucing. Aku menakutinya dengan ketiga kucing itu. Aku sangat bahagia
melihat kakaku menderita dengan rasa ketakutannya itu. Biasanya bila aku takuti
dengan kucing itu, kakakku berteriak sambil berlari-lari menghindari. Itu hal
yang paling membuatku bahagia karena itu hal yang sangat lucu. Lebih dari
melihat lawakan sule di TV.
Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Jaky,
salah satu kucingku jatuh sakit karena tertelan duri ikan. Jaky sakit lalu
tidak beberapa lama kemudian dia mati karena hal itu.
“Ibu, Bapak Jaky mati…”. Teriakku kencang
Melihat Jaky mati, rasanya aku seperti ingin pingsan dan
rasanya juga aku seperti berada di tempat yang serendah-rendahnya dalam
hidupku.
“yang sabar ya…, dia mungkin kangen sama Ibunya”, kata ibu
menghiburku.
“iya bu, aku tahu”, jawabku sedih
Akupun berusaha sabar menerima kenyataan kalau Jaky,
kucingku tersayang telah mati dan menyusul Ibunya yang telebih dulu mati.
“Ya Allah mudah-mudahan Jaky dan Ibunya masuk surga. Aminn..”.
doaku dalam hati.
Aku berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Ketika aku
sudah bisa melupakan kejadian itu, tidak lama kemudian sekitar 1 bulan berlalu,
Garong kucingku salah satu kucingku juga ikut mati menyusul Ibu dan kakaknya. Kematian
Garong ini sebelumnya sudah kuperkirakan, jadi pada saat Ia mati, jasadnya
terlihat sangat tenang dan nyaman. Mungkin karena aku telah benar-benar ikhlas
menerima kepergiaannya.
“sekarang tinggal tersisa satu kucing lagi, yaitu kitty
mudah-mudahan dia tidak ikut mati lagi menyusul Ibu dan kedua kakaknya”, kataku
dalam hati sambil mengelus-ngelus kitty.
Setelah kejadian itu semua aku selalu menjaga kitty dengan
baik. Mulai dari memberinya makan, memandikannya, sampai mengajaknya bermain
semua kulakukan dengan sangat senang.
Tidak terasa telah memasuki bulan puasa. Aku senang masih bisa
bermain dengan kitty. Saat aku bangun sahur, aku juga suka melihat kitty dan
memberinya makanan.
“Kitty bangun, kita sahur bersama yuk…”, candaku pada kitty
“coba kasih dia makan”, kata abangku
“ok”, jawabku sambil mengambilkan sedikit makanan
“nih kitty makan yang banyak ya…kita puasa bersama hari ini”
jawabku pada kitty
“loe kayak orang gila aja sih, ngomong sama kucing terus
ngajak dia ikut puasa segala lagi”. Jawab abangku
“biarin aja napa, terserah gue lah. Yang gila gue ini bukan
loe emangnya ada masalah buat lu???”. Jawabku kesal
“yee..loe gue bilangin malah ngelawan. Yaudah terserah loe
aja. Gue mau masuk dulu di luar dingin, sekalian ngelanjutin sahur”, jawab
abangku
“ya udah sono. Lagian siapa juga yang nyuruh loe ke sini”,
lanjut ku
“ih yaudah… bye “lanjut abangku.
Aku melanjutkan keseruanku dengan kitty, yaa walaupun tadi
ada pengganggu datang menghampiri, tapi sekarang kita udah bisa lanjutin lagi.
Aku benar-benar sangat senang dengan kehadiran kitty di
rumah. Rasanya rumah menjadi tidak sepi berkat tingkah lucu yang selalu aja dia
buat.
“coba aja Jaky, Garong, dan Ibunya masih ada pasti mereka
bakalan jadi keluarga bahagia nih..”. pikirku
“tapi ya udahlah mereka semua sudah tenang di sana, di sini
aku harus menjaga kitty dengan baik”. lanjutku.
Selanjutnya hari terus berganti. Hingga pada hari itu aku
pulang sekolah dengan membawa banyak sekali tugas di pikiranku. Lalu aku
teringat aku ada janji untuk kerja kelompok di rumah Mega. Tak berlama-lama aku
langsung menemui Bapakku yang sedang berada di rumah untuk mengantarku ke rumah
Mega.
“Pak, bisa anterin aku ke rumah Mega gak?”. Tanyaku pada
Bapak
“bisa kok, kebetulan bapak lagi ada di rumah”. Jawab Bapak
“jam berapa berangkatnya?”, Tanya Bapak
“sebentar pak aku mau ganti baju dulu”, jawabku
“ya udah cepet sana nanti kamu pulangnya kesorean”.
“iya pak sebentar”. Balas ku
Aku langsung bergegas berganti baju dan langsung berangkat.
Siang itu aku belum mengajak kitty bermain. Jadi pas aku mau pergi kitty terus
ngikutin aku sampai ke depan pagar. Ketika Bapakku pulang mengantar, tak
sengaja bapakku melindas Kitty dengan motornya.
“Astagfirullah, kitty..” ucap Bapak
Lalu ketika aku pulang dari rumah mega, aku diberitahu Bapak
kalau tadi kitty gak sengaja dilindes motor Bapak.
“kitty tadi gak sengaja Bapak lindes pake motor…” ucap Bapak
“loh kok bisa?” Tanyaku
“iya, jadi waktu bapak pulang nganter, bapak lagi buru-buru
soalnya ada yang lagi nyariin bapak tadi. Terus karena buru-buru bapak gak
ngeliat ke bawah yang ternyata di situ ada kitty. Jadi kitty terlindas motor
bapak dan langsung mati”. Bapak menjelaskan
“Ya Allah kitty…” ucapku sedih
Aku langsung melihat jasadnya dan langsung meneteskan air
mata. Sebenarnya pada saat itu aku lagi puasa, kata orang sih kalu lagi puasa
jangan nangis. Soalnya itu bisa membatalkan puasa. Tapi karena aku merasa
sangat sedih, aku tidak bisa menahan air mata yang keluar. Dan terus menangis.
“udah, jangan nangis terus, nanti malah kasihan dia gak
bisa tenang perginya”, hibur ibu
Tanpa mejawab atau berkata apa-apa aku hanya bisa terus
menangis. Rasanya kejadian Jaky mati kini terulang lagi. Aku benar-benar merasa
sangat sedih, apalagi kitty satu-satunya kucing yang tersisa sekarang. Kalau kitty
mati itu berarti udah gak ada lagi kucing yang biasa menemaniku.
“maafin Bapak ya…bapak gak sengaja melakukannya” ucap bapak
“iya pak gak pa pa” jawabku sambil menangis
“mungkin ini udah jalan takdirny, mungkin kitty kangen sama
Ibu, dan kedua kakaknya yang pergi terlebih dulu”. Lanjutku sambil menangis
Aku berusaha sabar dan teger menerima kenyataan pahit ini. Aku
lalu menguburkannya bersama bapakku. Aku terus menahan air mata yang ingin
keluar ini. Setelah beberapa lama kitty pergi kini aku mulai bisa menerima
kenyataan dan menjalani hidup seperti biasa. Walaupun tanpa kehadiran satupun
kucing di rumahku.


Tidak ada komentar: